Kisah Nyata : Do’a Ibu Selamatkan Putrinya yang Positif Covid-19 Tanpa Bantuan Medis di New York

Doa Ibu
Ilustrasi doa ibu (okezone)

Terkini.id, Bondowoso – Ini adalah kisah nyata, teramat inspiratif di tengah ganasnya wabah covid-19. Begitu banyak pelajaran hikmah yang bisa kita petik, untuk renung jiwa, betapa kekuatan dan keyakinan seuntai doa, terutama dari seorang ibu untuk anak-anaknya, yang ikhlas, pasrah, tawakkal, penuh runduk khudhu’ akan diijabahNya.

Keajaiban. Mukjizat. Allah tetapkan menurut kehendak mutlakNya.

Dan kekuatan doa serta mindset sebuah keyakinan, itu nyata. Janji Allah atas hamba yg beriman. Pasti.

Seorang ibu mengisahkan tentang putrinya yang sedang studi S2 di kota New York, AS di tengah pendemi Covid-19 :

Di awal-awal datangnya virus ini ke negeri itu, di sekitar 1 bulan yang lalu dimana semua mahasiswa sudah tidak boleh lagi mengikuti perkuliahan di kampus, bahkan mahasiswa yg dari luar negeri diperintahkan utk kembali ke negerinya masing2.

Baca juga:

Maryam pun demikian, di minta oleh pihak LPDP utk segera kembali ke indonesia. Tiket pesawat pun di pesan. Tapi bersamaan dengan itu, dia merasakan sesuatu terjadi dalam dirinya. Dia merasa terkena gejala covid 19.

Sepulangnya dari kampus, tenggorokannya terasa sangat kering dan mulai tidak nyaman. Keesokan harinya dia mulai batuk-batuk dan mulai pusing serta lemes.

Tadinya dia berpikir ini hanya perasaannya saja karena dimana-mana sudah mulai ramai orang terkena virus ini. Dia mencoba menenangkan diri.

Namun malamya dia sama sekali tidak bisa tidur. Batuk kering namun berdahak, dan dahaknya pun berwarna keruh.

Barulah malam itu dia cerita kepada kami lewat WA dan mengabarkan bahwa dia tidak bisa pulang. Tiket pesawatnya dibatalkan karena dia sekarang sakit.

Kami semua sempat shock. Tapi kita semua berusaha untuk tetap tenang dan tidak panik, karena pastinya dia butuh kami untuk mendengar apa yg dia rasakan.

Kami semua menyarankan agar segera di test atau periksa ke rumah sakit terdekat.

Keesokan harinya persis apa yg dialami beliau almarhum Bapak Aji Jumena, Presiden Masjid Al Hikmah New York yg berpulang menghadap Allah karena covid-19. Maryam diminta oleh pihak medis untuk karantina mandiri di tempatnya dia tinggal tanpa menerima pelayanan medis sedikitpun.

Maryam menerima kenyataan ini dan dia harus menjalaninya sendirian. Kami yang di Indonesia tidak pernah berhenti untuk terus memantau dan memberinya dorongan semangat bahwa semua itu pasti bisa dia lewati.

Sungguh tidaklah bohong, hari ke-5 sepertinya dia menangis. Dia tidak lagi mampu bicara, dia sampaikan kepada kami bahwa dia tidak bisa bangun dari tempat tidur. Dia sesak dan tidak bisa bernafas. Dadanya seperti terbakar.

Dia katakan lewat tulisannya di WA pada kami, betapa banyaknya seperti batu-batu besar yang membebani dadanya sampai dia betul-betul tidak bisa bangun. Dia hanya bisa berbaring menahan sesak nafas.

Dia ingin minum…dia ingin berjalan ke kamar mandi tapi dia gak bisa lakukan itu. Dia bilang dia cuma bisa menangis menahan sakit bernafas dan rasa terbakar di dadanya.

Pada kondisi seperti itu dia mengucapkan kata maaf kepada kami. Itulah saat yang paling sakit dalam hidup saya sebagai seorang ibu. Jauh dan tidak ada di sisinya. Tapi sungguh wallahi, saya tidak menunjukkan rasa perih saya padanya.

Saya katakan “kamu bisa lewati masa-masa ini… kamu kuat, kamu dipilih Allah untuk Allah angkat derajatmu karena pahala sabar yang kamu jalani sekarang….”

Kemudian saya minta dia untuk tayamum, sholat 2 rokaat sambil berbaring. Dia lakukan itu dengan bersabar.

Setelah sholat saya minta dia membaca surat alfatihah ke atas dua belah tangannya, dan kirimkan surat alfatihah tersebut untuk dirinya sendiri.

“Sebutkan namamu dan bintimu… lalu mintalah sama Allah untuk sembuhkan penyakitmu…”

Setelah dia selesai lakukan itu, katanya dia sudah lebih tenang… alhamdulillah. Walapun masih terasa sesak dan panas di dada dan belum bisa tidur. Saat itu saya ingatkan dia untuk lakukan terapi tapping (mengetuk-ngetuk titik-titik meredian di kepala, wajah, badan, dan tangan) agar dia ikhlas menjalani dan menerima sakitnya ini.

Maryam anak yang taat terhadap saya, ibunya. Dia ikuti, dia tapping diri sendiri. Dia harus yakini dirinya sendiri, bahwa dia ikhlas menerima semua ini karena Allah. Semua datang dari Allah dan akan kembali kepadaNya.

Percakapan tidak lanjut, saya biarkan dia menjalani tappingnya sendiri. Dan sayapun ambil wudhu dan sholat 2 rokaat, mengirimnya alfatihah, membayangkan wajahnya… Menangis pada Allah, menyerahkan padaNya semuanya dan meminta 1 permintaan, yaitu sehatkan dia kembali…

Sungguh… itulah hari ke-5 di mana masa-masa kritis dia terinfeksi covid 19.

Esok harinya, dia mengabari bahwa dia sudah bisa bangun. Sudah bisa duduk dan sudah bisa bangun untuk berwudhu, sholat subuh. Sungguh ini sebuah mukjizat katanya. Alhamdulillah ya Allah. Engkau mengabulkan do’a-doa kami.

Selanjutnya hari-hari kesininya dia semakin membaik. Dan Maha Suci Allah, di hari yg ke-15 dia sudah berjalan ke supermaket untuk membeli keperluan sehari hari karena selama karantina, dia tidak sempat menyediakan kebutuhan dia, keburu sakit. Hanya delivery saja saat dia butuh untuk makan.

Alhamdulillah ya Allah, semua sudah terlewati. Maryam putri kami sdh benar-benar sehat sekarang.

Hari ini Professornya heran mengetahui Maryam masih berada di New York dan bertanya “Apakah anda selamat?” Maryam jawab “yes I am”

Mohon maaf, panjang sekali saya menceritakan kisah nyata ini, penyakit yg mendunia ini ternyata telah mampir ke tubuh putriku di New York. Semoga kisah ini bisa memberikan manfaat buat semua.

Ananda Maryam juga mohon doa saudara-saudara semua di tanah air agar dia senantiasa Allah jaga. Aamiin…

Haturnuhun…

Diambil dari posting facebook akun Fahima Indrawati

Komentar

Direkomendasikan

Berita Lainnya

Memaskerkan Masyarakat dan Memasyarakatkan Masker

Resepsi Pernikahan Batal, Pemuda ini Buat Batik ‘Corona’

Laporkan Tulisan

Kami akan menggunakan masukan Anda untuk mempelajari ketika sesuatu tidak benar